Kata pembuat film "The Flame" tentang kekuatan film dokumenter thumbnail

Kata pembuat film “The Flame” tentang kekuatan film dokumenter

Diposting pada

Jakarta Beritaku.co – Para pembuat film “The Flame” atau judul Bahasa Indonesia “Bara” mengatakan film dokumenter memiliki kekuatan yang besar dalam menyampaikan sebuah topik dan pesan lebih luas, terutama soal isu lingkungan hidup.

“Menurut saya, film adalah medium yang paling kuat untuk membangun rasa, empati dan pengertian Beritaku.co satu sama lain. Menurut saya, memang as a filmmaker penting banget untuk angkat tema-tema seperti ini (isu lingkungan),” kata produser Gita Fara saat ditemui di Jakarta, Jumat.

“Penting dan kuat sekali (bagi film) untuk membangun urgensi dan kepedulian orang-orang tentang climate crisis dan ketidakseimbangan yang tengah terjadi di bumi. Saya kira kita ada tanggung jawab untuk menyuarakan itu,” ujarnya melanjutkan.

Baca juga: Film dokumenter Naomi Osaka dirilis di Netflix

Menambahkan, sutradara Arfan Sabran mengatakan, penting baginya sebagai sineas untuk mampu menceritakan isu yang besar dengan gaya penceritaan yang personal, baik bagi pembuat maupun penonton filmnya.

“Dalam konteks produksi, adalah bagaimana kita bisa menceritakan secara personal saat mengangkat isu yang besar seperti ini. Bagaimana proses kreatif ini bisa menceritakan sesuatu yang begitu besar tapi juga terasa personal,” ujar Arfan.

Lebih lanjut, pria yang juga menyutradarai film dokumenter “Silent Blues of The Ocean” (2016) itu mengatakan, film dokumenter yang personal adalah bahasa penceritaan yang paling universal, dan diharapkan bisa menjangkau banyak orang di dunia.

“Salah satu tugas saya adalah mengenalkan juga bagaimana film dokumenter itu sudah sangat berkembang. Ada creative documentary, hingga dokumenter yang dibawakan dalam format animasi,” kata Arfan.

“Bagaimana medium ini sangat powerful untuk bisa menyampaikan isu dan pesan yang ingin kita sampaikan,” tambahnya.

Sementara itu, “The Flame” mengisahkan sosok Iber Djamal, yang telah berjuang melawan deforestasi skala besar di sekitar desanya di hutan di Kalimantan selama beberapa dekade.

Namun, pada usia 77 tahun, dan meskipun pengabdian yang tak tergoyahkan, perjuangan menjadi semakin ilusif dalam menghadapi rakus monster agribisnis.

Film ini terpilih menjadi Official Selection Visions du Reel, DMZ Docs 2021, BIFED 2021, dan nomine untuk kategori Film Fitur Dokumenter Terbaik Festival Film Indonesia (FFI) 2021.

“The Flame” juga akan diputar di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ke-16 bulan ini, dan akan ditayangkan pula di bioskop Indonesia, mulai 29 November.

Baca juga: Nelayan Buru raih sertifikat ekolabel global dibuat film dokumenter

Baca juga: Film dokumenter tiga bagian “Barney” mulai diproduksi

Baca juga: Produser : Film dokumenter tentang budaya sangat penting

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira

Editor: Alviansyah Pasaribu

COPYRIGHT © Beritaku.co 2021